Tuesday, June 18, 2013

Life could be worse than this

Do you ever feel sad because you can’t have a Smartphone while your friend or family can have it easily?
Do you ever feel hopeless because you are not as beautiful as some random girls in television or in a magazine?
Do you ever feel envy because that girl has a very wonderful leg that looks so amazing in that mini skirt you wish you could wear it as mesmerize as she does?
Do you ever feel broken heart into pieces when your friend gets that job you fighting for together, whereas you don’t pass the test?
Yes, I do.
I start to focus on my failures and my imperfections.
Until some days ago I felt dizzy and I couldn't see everything clearly.
The moment I imagine how would my life be if I was born disable?
Then I wonder a life below.
You have no finger to type a text even in your ordinary Handphone
Your eyes can’t show how your face looks like
You can’t move from one place to another place easily
You are not able to apply the job you dream for too long because of those things above.
Why do I often write about this topic? Because I often to forget it. That’s why I make a writing to help my brain to always remember that I have to always be thankful.
Be thankful for this complete body parts
Be thankful for this ability to fight
Be thankful. Life could be worse than this.

Monday, June 17, 2013

Self-motivated

Experienced some rejections at the same time were one of the worst feeling ever.
Maybe I am not the only one who feels such terrible thing in this world so I intend to make a writing to set the fire back in our life.
Those rejections make a big influence to me as a thinker person.
Yes, I think too much as usual.
I even do not know what my dream job is.
I (almost) lose my faith.
Last year, I had a dream to work in a luxurious office with tidy clothes every day, 9 to 5 job, day off on Saturday, big salary, saving money so I can travel around this world.
Work in a NGO is not my willing because I do not like uncertain work hours and I think to work there need high idealism. Since I prefer to look at the reality, I think that job didn’t suit me well.
That’s why I applied to some Banks and they have rejected me for something beyond my reach.
Why I said beyond my reach? Because I failed in medical test and I have checked my health and I am healthy.
There is a chance to feel down and drown in sadness but I don’t want to.
I prefer the positive way of thinking and being optimist that something big is waiting for me in the future.
Being a Banker is not the best for me. Well, even I don’t know what the best job for me yet but I want to have faith and believe always.
I also don’t know what I want and sometimes, I lose my self-confidence and ask to my self: Am I that unlucky?
But, I still have another plan which I don’t want to share it now but I will someday.
Like what people say, if plan A failed then there is 25 letters left. So do not give up!
Now I change my point of view about dream job and apply almost every vacancy that closes to my qualifications.
I open my eyes widely, try every chance and let it flow.
I try not to think too much.
For you who accidentally read this blog and feel the same way, never give up!
Try to always motivated our own self, because If we don’t do that then who else?
Keep the spirit up, have faith and believe.

Monday, June 10, 2013

Graduation Dinner

Jam 17.00 pun tiba, saudara dan kenalan serta teman mulai berdatangan.
Makan-makan dimulai sambil bercerita dan bersenda gurau
Saya duduk dimeja dengan teman-teman beserta our random conversation (as usual) sambil ngakak hahaha.
Terima kasih Febri, Fay + Adek Ezel, Nining, Gita, Kanda, Elok, Wisnu dan Jenk Ryan yang sudah datang J
Kami berada di IBC cukup lama mulai dari jam 16.00-21.00 itupun karena ada saudara yang akan pulang ke Surabaya.
Untung tidak diusir haha.
Saya pun berpikir, coba kalau ini di Soe pasti minuman keras mulai diedarkan hehe.
It was one of best night ever in my life.
Berkumpul bersama orang-orang terdekat dalam hidup sungguh menyenangkan J
Setelah itu kami pun berpisah ke tempat tinggal masing-masing.
Setibanya dipenginapan, langsung beristirahat sambil ngobrol, membicarakan mau dibawa kemana arah hidup saya ini setelah wisuda haha.
Besoknya, Papa yang dulu kuliah di Malang (UM, dulu IKIP) sekitar tahun 1970an mengajak ke Alun-Alun untuk bernostalgia. Katanya dulu tidak ada mall, yang ada hanya Alun-Alun ini, itupun belum sebagus sekarang (walau sekarang tidak bagus-bagus amat sih menurut saya hehe tapi kata Papa dulu itu lebih jelek)
Setelah itu kita makan es krim di Toko Oen :9 Yummy!
Lalu, melanjutkan perjalanan ke Surabaya masih dengan Papa sebagai driver dengan diiringi hujan yang sangat lebat.
Tanggal 03 Juni, Papa berulang tahun ke 56. Happy birthday, dad! <:D
Kita merayakan dengan makan malam bersama + sebotol Bir dan dilanjutkan dengan karaoke. Hwaahh sungguh menyenangkan! Papa dan mama menyanyikan lagu-lagu jaman mereka “Semuaaaa terseraaah padamu, akuu beginiii adanyaaaa…” hahaha. So fun!
Menghabiskan beberapa hari di Surabaya yang diisi dengan jalan-jalan terus, lalu tanggal 05 Juni, Papa mama dan Irene pulang ke Soe.
Kita berpisah melanjutkan urusan masing-masing tapi cerita ini akan abadi.
Wisuda memang bukan akhir dari segalanya tapi sungguh menyenangkan!
Sangat menyenangkan ketika membuat orang tua dan diri sendiri bangga.
Saya mau lagi! Amin.
Harapan kedepan, kesarjanaan ini berguna bagi masyarakat, orang tua, diri sendiri terlebih Tuhan.
Semua yang sudah direncanakan sekiranya berjalan sesuai harapan.
Terima kasih Tuhan Yesus.

Thy will be done!

Let’s Go Graduate!

“The Roots of Education are Bitter but the Fruit is Sweet - Aristotle”

Setelah menunggu ± 6 bulan + penundaan wisuda 2 minggu, akhirnya datang juga hari peneguhan menjadi seorang sarjana, 01 Juni 2013.
Sebenarnya setelah yudisium sudah sah menjadi seorang Sarjana Ilmu Politik tapi tidak afdol tanpa wisuda hehe.
Lagipula, wisuda itulah hari dimana orang tua akan merasa sangat bahagia dan bangga melihat anaknya berhasil mencapai apa yang diusahakan selama ini.
Sepertinya 6 bulan itu lama, tapi setelah melewatinya terasa sangat cepat.
Dan akhirnya tibalah hari itu.
Hari yang sudah kita tunggu-tunggu.
Mama sudah mempersiapkan semuanya termasuk cinderamata untuk dosen, kebaya dan pesanan khusus kain tenunan asal Sumba-NTT yang akan dipakai oleh mama dan papa untuk wisuda Esti ;’)
Saya sendiri menggunakan kain tenunan Timor yang motifnya sangat saya sukai.
Saya juga sudah booking penginapan, salon dan studio 8, jahit kebaya, beli sepatu dan sebagainya :D
Untuk penginapan, pilihan jatuh pada sebuah Home Stay di Kedung Ombo Malang yang sangat bersih dan nyaman dengan harga terjangkau. Mungkin ini bisa jadi referensi bagi yang ingin berlibur di Malang. Ini bukan tulisan berbayar, saya hanya merekomendasikan tempat yang bagus ;)
Mama, papa dan Irene (adik sepupu) datang dari Soe-NTT pada tanggal 29 Mei 2013.
Menginap 2 malam di Surabaya lalu tanggal 31 Mei melanjutkan perjalanan ke Malang. Papa memilih untuk menyetir mobil sendiri haha.
Karena pada hari yang sama saya harus menghadiri Gladi Resik di fakultas dan universitas, akhirnya kita sepakat untuk langsung bertemu di penginapan saja yang tentunya telah saya beritahu ancar-ancar dan alamat lengkapnya.
Sore hari setelah selesai gladi resik, saya membawa semua perlengkapan ke penginapan bertemu mama, papa, kakak Elsa, Vini, Irene, Lintar dan Ricky.
Kita semua tidur sekamar dan sungguh menyenangkan.
Malam harinya kita jalan-jalan ke Matos, bertemu teman papa dan sepupu-sepupu yang lain lalu makan malam bersama.
Setelah itu pulang dan beristirahat.
Besoknya harus bangun jam 03.00 karena saya dan mama mendapat jadwal make up jam 04.00.
Namun, saya tidak bisa tidur hingga kira-kira pukul 00.00 haha.
Jam 03.00 mama pun membangunkan saya, lalu mandi dan membawa semua perlengkapan.
Semuanya lancar dan kita tidak terlambat ke Samantha Krida, tempat upacara wisuda dilangsungkan pada pukul 08.00.
Pada saat acara berlangsung, saya sangat mengantuk dan lapar!
Tapi rasa kantuk lalu hilang berganti rasa terhibur oleh kedua bintang tamu, Dio Mama Mia dan Yohana X-Factor. Suara Yohana yang menyanyikan Listen by Beyonce Knowles sangat bagus!
Tibalah saatnya wisudawan/wati FISIP akan diteguhkan.
Ayo Esti, konsentrasilah agar tidak terantuk atau lupa bersalaman dengan Pak Rektor! Thanks God, it didn’t happen to me ;)
Ketika nama saya dipanggil “Esti Renatalia Tanaem, S.IP”, saya sungguh bahagia. Sangat bahagia. Rasanya semua perjuangan terbayar lunas.
Ada sebuah bagian dari pembacaan doa yang langsung menarik perhatian saya: “Jadikan wisudawan dan wisudawati ini generasi yang diidolakan generasi berikutnya.” Doa ini sungguh indah dan sangat berarti bagi saya. Menjadi idola bagi generasi berikutnya tentu tidak bisa dan tidak mungkin dilalui dengan berpangku tangan. Harus ada suatu karya yang pernah dihasilkan dan saya bertanya-tanya, kira-kira bisakah saya demikian?
Akhirnya upacara selesai dan kita semua pun keluar ruangan.
Diluar, saudara-saudara telah bertemu dan ada yang membawakan bunga J
Terima kasih Bapa Yos dan keluarga buat bunganya.
Terima kasih Jenk Ryan buat bunganya.
Saya menyukainya.
Semua memberi selamat kepada saya dan cium hidung khas orang Timur hehe dan kitapun berfoto-foto mulai dari depan Samantha Krida, Bundaran UB, depan Rektorat hingga depan kampus FISIP!
Selesai foto-foto, saya , mama dan papa mengikuti wisuda Fakultas di Lantai 7 gedung FISIP.
Ada makan-makan dan saya yang sedang kelaparan, makan dengan sangat lahap haha.
Selesai acara sekitar jam 13.00, kami turun dan dibawah sudah ada teman-teman menunggu J
Mereka meneriakkan nama saya dan papa berkata “Sama ke artis sa (Re: Kayak artis aja)” hahaha.
Febri, Nining, Gita, Kanda, Sita, Lisa, Ary, terima kasih sudah datang.
Terima kasih Nining dan Gita buat mawarnya.
Terima kasih Sita buat cokelatnya.
Terima kasih Febri dan Fay buat Novel The Hobbit-nya, novel yang ingin saya miliki.
Terima kasih teman-teman dan saudara yang tidak sempat hadir namun memberikan ucapan selamat lewat sms, BBM, Facebook dan Twitter.
Terima kasih.
Bunga akan layu, cokelat akan habis dimakan, buku akan selesai dibaca tapi foto dan tulisan ini mengabadikan mereka.
I’m blessed to know all of you dear friends J
Setelah berfoto-foto, saya dan keluarga masih ngobrol sebentar lalu kita menuju studio 8.
Untuk mendapatkan foto keluarga di studio inipun ada kisah yang tak terlupakan.
Jadi ceritanya, saya mem-booking untuk jadwal jam 14.35.
Kita datang sebelum jam itu tapi ternyata setibanya disana sudah sangat ramai dan ada antri lagi. Maksudnya, yang datang duluan entah booking jam berapa itu akan didahulukan,
Terjadilah perdebatan panjang lebar antara Papa, Mama, Kak Elsa, saya dan Vini.
Sebenarnya tidak akan menjadi masalah kalau bisa booking tempat untuk graduation dinner yang mana sudah disebarkan berita kepada kenalan, teman dan saudara bahwa tempatnya di IBC jam 17.00. Namun, di IBC tidak bisa booking untuk hari Sabtu dan Minggu.
Karena takut waktunya tidak mencukupi, Mama ingin membatalkan saja. Kak Elsa juga setuju.
Saya langsung ngambek :p
Papa yang dengan penuh keyakinan berkata antri saja, waktunya pasti cukup dan akhirnya memang cukup hahaha.
Hanya Vini seorang yang ikhlas antri karena dia juga ingin foto studio hahaha.
Akhirnya bisa foto juga setelah antri lebih dari 2 jam walau ketika giliran kita sempat mati lampu 2 kali -_- Semoga hasilnya mampu membayar perjuangan ini hahaha.
Setelah itu, langsung menuju IBC. Pemilihan foto yang akan dicetak dilakukan minggu depannya.


[Continued to Graduation Dinner]

Friday, May 24, 2013

HPAIR Singapore 2010: About the Conference (Part III)


Konferensi yang terdiri dari 5 hari ini menyenangkan dan menambah ilmu.
Hari pertama tanggal 20 Agustus 2010 itu diisi dengan pre-conference tour, registration dan opening ceremony.
Pada saat registrasi sambil berkenalan dengan delegasi dari Indonesia dan juga negara lainnya.
Ada beberapa pilihan untuk tour dan kami memilih untuk ke Sentosa Island.
Menuju kesana menggunakan bis yang sudah disediakan panitia yang katanya jaraknya 20 Km tapi sungguh cepat perjalanannya karena tanpa macet.
Dalam perjalanan kesana terlihat kendaraan berat yang mengeruk pasir untuk memperlebar pulau.
Di Sentosa Island, kami berkunjung ke Patung Merlion yang sangat besar. Didalamnya terdapat 3 lantai dan ada lift. Juga berkunjung ke Images of Singapore yang didalamnya terdapat pemutaran film mengenai 4 tokoh pendiri Singapura. Lalu mengunjungi beberapa tempat lainnya.
Ketika menuju bis, seorang delegasi dari China bertanya bahwa dia heran mengapa saya dan Febri berasal dari 1 negara tapi rambut saya keriting sedangkan rambut Febri sangat lurus haha. Lalu saya menjelaskan bahwa saya merepresentasi Indonesia Timur yang rata-rata berambut keriting dan Febri adalah representasi Indonesia Barat yang rata-rata berambut lurus ;)
Setelah itu kembali ke tempat acara untuk opening ceremony.
Konferensi diadakan di Suntec Singapore International Convention & Exhibition Centre.
Suntec ini terdiri dari beberapa gedung yang mewah sehingga sempat nyasar dihari pertama hehe.
Seminar dimulai pada hari ke 2 hingga hari ke 5. Ada cerita lucu ketika ngobrol-ngobrol sebelum seminar dimulai. Seorang delegasi dari Korea mengatakan kalau orang Indonesia sangat cantik, lalu merujuk ke saya dan berkata bahwa saya cantik dengan perpaduan wajah Beyonce Knowles dan Angelina Jolie. I have no idea what kinda face is that lol!
Pada hari 4 tidak ada seminar karena ada field trip dan malamnya we all went to the club ;)
Panitia menyewa The Butter Factory, a Hip Hop and Dance Club, untuk peserta HPAIR sebagai bagian dari acara.
Saya kagum dengan pemikiran ini karena selain belajar, mereka menyadari bahwa refreshing itu juga penting.
We dance a whole night. It was so fun.
Pada malam ketiga sesi terakhir ada International Performance Night dan delegasi dari Indonesia menampilkan Poco-Poco dan Angklung.
Delegasi dari India menampilkan sebuah tarian dan kereeeeen banget!
Setelah acara selesai banyak delegasi minta foto bersama termasuk saya.
Acara ini ditutup dengan Gala Dinner.
Makanannya lengkap mulai dari appetizer, main course dan dessert.
Saya tidak terlalu menikmati main course tapi appetizer dan dessert sungguh menggiurkan :9
Acara ini merupakan kerjasama dengan Singapore Management University (SMU). Dihari ke 3, seminar diadakan di SMU dan ruang kelasnya sangat bagus. Tatanan kursi dan meja adalah semacam di bioskop (dibelakang lebih tinggi dari didepan), bersih dan sangat nyaman.
SMU juga langsung terhubung dengan MRT Station.
Mereka adalah panitia pelaksana yang hebat, mampu melaksanakan konferensi internasional dengan baik.
Setelah Gala Dinner selesai, kami mengambil sertifikat.
Setelah itu sebelum pulang ke penginapan, kami mampir ke Marina Bay dan menikmati Singapura pada malam hari yang sepi.
Bis pun hanya beroperasi hingga jam tertentu jadi kalau sudah malam gunakanlah taxi.
Besok harinya kami pergi ke China Town, sedikit berbelanja lalu sorenya bersiap-siap untuk pulang ke Indonesia dengan night flight.
Karena ini bepergian pertama kali ke acara diluar negeri maka saya membawa terlalu banyak pakaian dan sepatu yang akhirnya tidak digunakan. Sekiranya ini bisa jadi pelajaran dikemudian hari supaya bawa yang dibutuhkan saja J
Tibalah saat untuk pulang dan saya ingat status yang saya update di Facebook waktu itu adalah I’m not ready to fly.
Suka pergi ke negeri orang dan mendapatkan pengalaman baru tapi saya tetap mencintai Indonesia.
Setelah melalui penerbangan yang lancar lalu mendarat dengan sempurna di Ngurah Rai.
Hallo again Indonesia!
Thank you, HPAIR for the most priceless experience I’ve ever had.
See you next time, Singapore!

[The End]

HPAIR Singapore 2010: About Singapore (Part II)


Penerbangan dari Ngurah Rai ke Changi tidak memakan waktu terlalu lama, sekitar 2 jam dan 30 menit. Waktu Singapura sama dengan WITA.
Begitu pesawat mendarat di Changi, saya tidak bisa memalingkan wajah dari jendela pesawat.
Too excited!
Akhirnya tiba saatnya untuk penumpang keluar dari pesawat dan yay welcome to Singapore ;)
Changi Airport sangat luas, mewah dan bersih.
Singapura memang sudah terkenal kebersihannya.
Saking luasnya, kami kebingungan mencari pintu keluar sehingga bertanya ke bagian informasi yang dijaga oleh warga Singapura keturunan India.
Sebagai info, Singapura terdiri dari 4 bangsa yakni China, India, Melayu dan Eropa dengan pesentase lebih banyak China.
Pendirinya pun adalah 4 pria yang berasal dari bangsa tersebut.
Kembali lagi ke Changi, akhirnya kita mendapat info mengenai pintu keluar untuk mencapai MRT.
Beda dengan di Bangkok, di Singapura itu semua tempat sudah bisa dijangkau dengan MRT termasuk Sentosa Island.
MRT masih merupakan transportasi favorit saya karena murah, mudah didapat, nyaman dan aman.
Kita pun naik MRT dari Changi untuk keluar mencari penginapan yang sudah di googling oleh Fay.
Setelah berputar-putar ria menarik koper dan bertanya-tanya akhirnya kita menemukan penginapan yang murah meriah di daerah Bugis, Sleepy’s Sam.
Ini tempatnya backpacker, untuk info lebih lengkap silahkan kunjungi websitenya.
Kami mendapatkan kamar untuk 3 orang.
Dan ternyata ada peserta dari Eropa yang tinggal disitu juga jadinya ada kenalan J
Setelah beristirahat, kamipun mencari makan siang dan makanan pertama saya di Singapura adalah Nasi Lemak hehe.
Semacam nasi uduk, murah dan mengenyangkan J
Saya menemukan sebotol Aqua ukuran tanggung di sevel eleven seharga SGD 2 atau sekitar IDR 12.000 ;)
Setelah itu kami mulai jalan-jalan mengitari Singapura naik MRT
Tujuan kami adalah ke the famous Orchard Road ;)
Disana jalan-jalan sebentar dan membeli ice cream (semacam ice bread) yang dijual dijalan yang katanya terkenal juga.
Setelah itu naik bisa yang tidak kalah bersihnya menuju Marina Bay yang dari situ kita bisa melihat Marina Bay Sands (Hotel, Casino, etc) yang atasnya berbentuk kapal itu.
Entah kapan bisa menginap disana haha. Amin.
Setelah puas foto-foto, kamipun pulang dan mempersiapkan diri untuk acara pre-conference besoknya.
Ketika jalan-jalan itu, saya disms papa dan entah mengapa saya merasa sangat merindukan mereka
Waktu di Bangkok pun saya sangat merindunkan mereka dan mata berkaca-kaca ketika menelepon mereka.
That’s why one of my goals when I already get my own salary is going abroad with them O:)
Di Singapura itu banyak juga orang India yang bukan warga Singapura yang bekerja sebagai tukang bangunan. Mereka sering saya ditemui di bis.
Masalah kebersihan, jangan ditanya. Bersih sekali! Singapura sudah terkenal sebagi fine city, melanggar sedikit langsung didenda cukup besar dan warganya sangat taat.
Mungkin karena warganya sedikit, rata-rata berpendidikan dan negaranya kecil sekali sehingga mudah diatur.
Suatu kali pergi ke seven eleven dan melihat rokok yang dijual. Diseluruh bungkus rokok itu terdapat gambar penyakit-penyakit yang akan diderita jika merokok.
Di MRT Station, semuanya dibawah tanah dengan eskalator yang tinggi sekali. Saya sungguh terkagum-kagum melihatnya dan tentu saja berfoto hehe.
Eskalator di MRT Station itu sungguh cepat, apalagi station-station tertentu yang selalu ramai. Jadi tidak ada waktu untuk melamun karena semua dikejar waktu.
Saya suka mengamati tingkah laku warga Singapura ketika menunggu MRT. Terlihat sangat menghargai waktu.
Jarang terlihat tempat sampah di MRT Station tapi tidak ada sampah berserakan! Ini patut ditiru.
Dijalanan pun jarang terlihat kendaraan. Hal ini karena pajak kendaraan yang sangat tinggi sehingga hanya orang yang benar-benar mampu yang bisa memiliki kendaraan.
Warga Singapura menggunakan transportasi umum yang hanya berhenti ditempat-tempat tertentu. Jika bukan dihalte, bis tidak akan berhenti. Taxi juga tidak parkir sembarangan, untuk menggunakan layanan taxi dapat menghubungi lewat telpon.
Karena berhenti ditempat tertentu, pengguna perlu berjalan kaki untuk mencapai tempat tujuan. Katanya seorang teman, pemerintah Singapura mengkampanyekan jalan kaki ini untuk hidup sehat.
Walau jarang ada kendaraan dijalanan tapi untuk menyebang harus mengikuti lampu lalu lintas dan semua penyebrang tetap taat walau tidak ada mobil dijalanan tapi menunggu lampu hijau untuk penyeberang.
Dan tidak ada polisi lalu lintas atau tukang parkir dijalanan karena parkir pun tidak sembarangan hahaha.
Untuk berbelanja oleh-oleh bisa di Bugis Street yang dekat dengan penginapan kami dan juga di China Town.
Jajanan di China Town enak-enak dan barangnya murah dan bagus.
Ini cerita ala mahasiswa backpacker, beda kalau artis yang ke Singapura pasti belanjanya di Louis Vuitton dan kawanannya ;) hehe
Sayangnya, kami tidak mengunjungi Universal Studio karena masalah waktu. Jika ada kesempatan lagi, saya akan mengunjunginya.
Inilah sisi baik dari Singapura.
Ada berita-berita mengenai moral warganya tapi saya rasa itu tidak untuk ditiru, jadi tirulah yang baik-baik saja.
                                        
[Continued to part III]

HPAIR Asia Conference in Singapore 2010 (Part I)


Dengan alasan ingin mengabadikan segala momen berharga dalam hidup maka saya ingin mengingat kembali pengalaman ± 3 tahun lalu yang sangat berharga ini dan menuangkannya dalam bentuk tulisan karena dalam bentuk foto sudah terlalu banyak :D
Langsung saja, Harvard Project for Asia and International Relations (HPAIR) adalah sebuah proyek yang diadakan oleh mahasiswa Asia yang mengenyam pendidikan di Harvard University
Proyek ini berbentuk konferensi internasional yang dalam setahun diadakan di dua tempat yakni di Amerika dan di Asia.
Tempatnya berpindah-pindah tergantung universitas dari negara mana yang melakukan dan memenangkan bidding.
Saya berkesempatan mengikuti acara ini pada tahun 2010 yang pada waktu itu akan diadakan di Cina tapi kemudian berganti tempat di Singapura.
Pergantian negara tidak menjadi masalah karena sudah terlalu excited.
Untuk mengikuti acara ini dilakukan pendaftaran secara online tanpa keterlibatan pihak kampus kecuali ingin minta sumbangan dana karena acara ini menggunakan dana pribadi.
Karena itu, saya sangat beryukur dan berterima kasih pada papa dan mama atas pengertian dan atas dukungan finansialnya.
Acara ini sangat bermanfaat walau terbilang mahal sehingga saya tidak dapat berhenti untuk bersyukur akan kesempatan ini.
Acara ini berlangsung tanggal 20-24 Agustus 2010.
Saya sudah mempersiapkannya sejak bulan Maret 2010 untuk early application round demi mendapatkan biaya registrasi yang lebih murah.
Selain itu juga persiapan dokumen seperti passport.
Untuk dapat diterima maka applicant diminta membuat essay sesuai dengan (semacam) peminatan yang pada waktu itu saya memilih Environment.
Saya sudah mengirim aplikasi sebelum deadline namun entah mengapa pengumuman tak kunjung datang padahal teman-teman saya yang mengikuti regular (or late) application round sudah mendapat pengumuman dan sudah membayar biaya administrasi.
Sayapun kalang kabut karena waktu itu sudah membeli tiket promo oleh Air Asia tercinta haha sebesar IDR 750.000 return! ;) Murah sih, tapi kalau tidak jadi berangkat kan sayang.
Singkat cerita, setelah saya mengirim email ternyata dijawab dengan saya sudah lulus dan tinggal bayar.
Entah email penerimaan itu nyasar kemana.
Bayar pun penuh dengan drama!
Ceritanya karena tidak mempunyai credit card, sayapun membayar lewat transfer bank.
Teman saya juga begitu tapi dia lancar jaya pengirimannya.
Akhirnya, selama beberapa minggu saya tiap hari berurusan dengan email dan bank.
Kebetulan saya mengirim lewat kantor cabang sehingga mereka harus mengecek ke kantor pusat dulu.
Saya sampai dihadapkan pada kepala kantor cabang itu karena dari pihak HPAIR meminta semacam kode yang saya lupa apa namanya namun yang diberikan bank bukan itu yang dimaksud sehingga uang saya tidak dapat dilacak.
OMG, itu uang bukan ratusan ribu tapi jutaan.
Tiap hari saya berjuang ke Bank dan yang memalukan ketika bertemu sang kepala Bank itu saya menangis hahaha.
Beliau berjanji akan segera pergi ke kantor pusat untuk meluruskan masalah ini karena berdasarkan catatan bank, uang sudah terkirim namun buktinya yang dimaksud bank penerima lah yang tidak dapat ditemukan oleh kantor cabang.
Akhirnya masalah pembayaran beres tapi karena termasuk telat maka saya tidak tercantum dalam buku alumni delegasi L
Buku itu tidak didapatkan secara gratis jadi karena tidak ada foto saya jadinya tidak saya beli hehe.
Malam ini, ketika saya menuliskan cerita ini, saya berpikir bahwa Tuhan selalu ingin saya bekerja keras dan berusaha.
Dalam hal ini, karena bisa berangkat tanpa ada kendala biaya (thank you very much, mom and dad J), saya diajarkan untuk bekerja keras dan berjuang pada hal yang lain.
Lega dan bahagia ketika melewatinya.
Yay, tibalah waktu untuk berangkat.
Kami berangkat dari Bali. Sungguh membahagiakan.
Dari Malang, kami (Esti, Fay, Febry) naik bisa tanggal 17 Agustus, sampai Bali 18 Agustus.
Menikmati Bali sehari lalu besoknya tanggal 19 Agustus terbang ke Singapura.
Begitu mendarat di Singapura rasanya sangat bahagia.
Itu adalah pertama kalinya pergi ke luar negeri :D

[Continued to Part II]